"Ini namanya blog", kata ayah. "Kamu bisa menulis apa saja di sini dan dalam sekejap seluruh dunia yang ingin melihat, bisa membacanya. Juga bisa melihat foto foto, bahkan mendengar suaramu." Sejak itulah, pada saat duduk di kelas 4 SD, aku berkenalan dengan sebuah "rumah" baru, rumah yang tak pernah terlintas sebelumnya pada imajinasiku. Sebelumnya, ketika masih kelas 2 SD, aku sering melihat ayah bunda berhubungan dengan banyak orang tetapi tanpa bertemu muka dengan orang-orang tersebut. Anehnya mereka seolah sangat akrab dan kerap bertukar cerita. Aku mengalaminya sendiri tahun 2003. Ketika itu aku memenangkan Lomba Menulis Surat untuk Presiden RI Megawati Soekarnoputri. Tiba-tiba surat tersebut dalam sekejap sudah dibaca banyak orang dan mendapat berbagai macam tanggapan. "Ayah kirim ke internet," ujar ayahku. Lalu apa semua dunia jadi tahu? Kata ayah: Semua orang di dunia bisa kalau mau baca suratku itu lewat internet. Sejak saat itu, aku tahu internet keren sekali. bisa dipakai untuk menyebarkan semua yg baik dalam sekejap. Tetapi bagaimana dengan yg buruk? Pasti sekejap pula bisa tersebar bukan? Aku bergidik. Aku juga sempat terbengong-bengong ketika tiba-tiba ayahku dihubungi oleh Nurcholis Madjid. Beliau ingin bertemu aku dan memintaku membaca puisi karyaku dalam peluncuran bukunya. Darimana dia tahu puisiku bagus? "Internet," kata ayah. Namun yang menjadi misteri hingga saat ini ayah tak tahu siapa yang memasukkan naskah yg belum diterbitkan itu ke internet. Sejak itu aku tahu rumah maya tersebut bisa menjadi lahan untuk menebar kebaikan dan cinta. Untuk menjalin hati-hati yang bertebaran di bumi pertiwi ini.
Aku bisa menulis apa saja di sana, juga kepedihan dan gelisahku.
Internet juga menghilangkan kecemasanku soal data. Bayangkan, pada usia empat tahun, aku pernah menghilangkan seluruh data di komputer bundaku! Mengerikan bukan? Tapi kini ayah bunda punya blog sendiri yang juga bisa menampung data. Adikku Nadya juga memiliki blog sendiri. Bahkan foto perdananya sudah muncul di internet 5 menit setelah ia dilahirkan hahaha (tentu saja ini kerjaan ayah dan aku). 
Begitulah blogku: http://masfaiz.multiply.com menjadi blog pertamaku untuk menulis apa saja. Dan siapa yang mengira, bahwa tulisan-tulisanku di blog mendapat banyak sekali tanggapan. Banyak yang senang, tapi ada juga yang mengatakan lebih baik aku main bola daripada menulis puisi. Puisi-puisi itu kemudian dibukukan. Kini aku sudah menulis 12 buku, yang hampir semuanya berasal dari blog-ku.
Bahkan buku-buku tersebut membuatku bisa memiliki adik dan kakak asuh, dan membawaku memperoleh penghargaan dari Presiden SBY. Alhamdulillah. "Penyair cilik yang peka hati", komentar detik.com untuk blogku. Dan sejak interaksi pertamaku dengan internet, hingga kini, aku bertekad untuk terus menghidupkan hatiku dan menyentuh hati banyak orang. Ya, meski mungkin belum pernah dan barangkali takkan pernah kulihat wajah asli mereka di dunia nyata.... Almost confirmed, Telkomsel will offer iPhone 3G in IndonesiaJul 23, 2008 09:39Just a quick update. As I wrote in this blog two months ago about which operator will bring Apple's iPhone 3G to Indonesia, at least there are two possibilities:
First, the country's biggest operator, Telkomsel, will offer the iPhone to its customers. Telkomsel is a state-owned company, with 35 percent of its stake owned by Singapore giant SingTel. As reported earlier, SingTel and its mobile associates will bring Apple Inc's popular iPhone to Singapore, India, Australia and the Philippines later this year. And probably, according to my opinion, it will bring this to Indonesia also.
Second, Hutchison will team up with Apple to offer the iPhone. The telecom company operates mobile phone services in Hong Kong, Thailand, Israel, Macau, Sri Lanka, Indonesia and Vietnam. So, Indonesia will be its next logical step to offer the iPhone. But it seems Telkomsel, which has more than 50 million users now, will win the bid rather than Hutchison. According to a colleague who works close to the operator: "Telkomsel will offer iPhone 3G here. It's almost confirmed."
He told me: "Telkomsel will offer the iPhone to its postpaid customers. Now they are working on how to determine the plan that will be offered to the customers."
As we know, the country's cellular market relies on the prepaid customers, so the iPhone 3G should be attached to the postpaid mechanism.
I tried to confirm this with one of the Telkomsel execs, but he just smiled and said: "We pray for this."
Serbuuuu!!!!!!! | ROAD TO BIKE TO WORK DAY 2008 |
| Written by Rivo Pamudji | Berawal dari sekelompok penggemar kegiatan sepeda gunung yang punya semangat, gagasan dan harapan akan terwujudnya udara bersih di perkotaan, lahirlah KOMUNITAS PEKERJA BERSEPEDA (Bike-to-Work Community) yang kemudian menggagas kampanye pertama penggunaan sepeda ke tempat kerja pada 6 Agustus 2004. Seiring dengan berjalannya waktu, peminat alternatif moda transportasi selain kendaraan bermotor ini semakin berkembang, hingga dirasa perlu untuk dibuat wadah agar gerakan ini dapat semakin tersosialisasi. Pada 27 Agustus 2005 dilakukan Deklarasi & Pernyataan Bersama Komunitas Bike to WorkIndonesia di Balai Kota DKI Jakarta, yang kemudian ditetapkan sebagai tanggal kelahiran Komunitas B2W-Indonesia. Berikutnya, kepengurusan B2W Indonesia yang pertama dibentuk pada 27 Januari 2006. Selanjutnya Komunitas ini bertekad mengkampanyekan penggunaan sepeda sebagai alternatif moda transportasi, terutama untuk mendukung aktivitas sehari-hari. Dari sekitar 15 orang pada awal kampanye di 2004, kemudian 'hanya' 150 orang B2Wers yang hadir pada saat Deklarasi di tahun 2005 tersebut, pada peringatan hari jadi Komunitas B2W Indonesia 2 tahun kemudian di 2007, tercatat jumlah anggota komunitas ini telah mencapai hampir 5000 orang. Hanya dalam periode 2 tahun, pertumbuhan peminat pengguna sepeda untuk mendukung aktivitas sehari-hari telah mencapai lebih dari 3000% atau 30 kali lipat!!! Suatu bukti bahwa gerakan moral komunitas ini memperoleh banyak tempat di hati masyarakat. Agustus 2008 ini akan menjadi ulang tahun ke-3 Komunitas ini. Untuk memperingatinya sekaligus mengkampanyekan gerakan moral yang mulia ini, Komunitas B2W Indonesia akan menyelenggarakan perhelatan besar berskala nasional dengan harapan agar gaung seruan ajakan menggunakan sepeda untuk beraktivitas sehari-hari semakin dahsyat dan pada akhirnya mampu menginspirasi lebih banyak orang. Ujung-ujungnya tentu diharapkan berdampak positif, karena selain meningkatkan kualitas manusia Indonesia secara fisik dan psikis (tidak lagi stress karena macet dan memikirkan besarnya pengeluaran transport), juga meningkatkan kualitas udara dan melestarikan lingkungan. Sesungguhnya setiap saat selalu menjadi momen yang tepat bagi komunitas ini untuk berkampanye. Hanya kali ini dengan skala yang lebih besar dan secara serentak kita akan bersama-sama melakukannya. Tidak mungkin perhelatan akbar tersebut dapat terlaksana tanpa bantuan dan dukungan rekan-rekan seperti halnya semua event yang pernah diselenggarakan komunitas ini. Sekali lagi, diharapkan kesediaan rekan-rekan untuk bahu membahu membesarkan komunitas tercinta ini melalui penyelenggaraan event milik kita sendiri. Murni milik kita sendiri. Siapkan diri rekan-rekan untuk mendorong komunitas menapaki milestone berikutnya. Milestone yang merupakan misi Komunitas, yang akan mengantarkan Komunitas ini menuju visi dan cita-citanya. Jadilah bagian dari sejarah. Sejarah tumbuh dan berkembangnya sebuah Komunitas yang perduli serta bertujuan mulia. While others just started to "goes green", we are doing way beyond. |
| Mas Faiz, kamu masih suka menulis kata-kata indah?" Kami tinggal lima menit lagi sampai rumah. Mobil berjalan perlahan melewati gundukan-gundukan polisi tidur di jalan perumahan. Jawaban Faiz membuat aku dan istriku terhenyak. "Kata-kata indahku sekarang matematika," tandasnya seketika, seakan-akan kalimat itu sudah menggantung di ujung lidahnya, "rumus volume bangun tiga dimensi, akar, KPK (faktor persekutuan terkecil --pen), FPB (faktor persekutuan terbesar --pen), dan lain-lain. Banyak deh.." Aku tersenyum, sambil menghela nafas panjang. Pertengahan Mei ini Faiz dan semua anak SD lainnya akan menempuh Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional yang untuk pertama kalinya tahun ini diterapkan pada tingkat sekolah dasar. SDIF al Fikri, tempat Faiz belajar, tidak mau ambil resiko. Sejak hari pertama tahun ajaran, semua murid kelas enam sudah digembleng dengan aneka pekerjaan rumah, ulangan harian, ujian akhir semester, try-out hingga mentoring. Pola ini makin intens memasuki semester kedua. Praktis tiada hari tanpa pekerjaan rumah, dan tiada pekan berlalu tanpa ujian. Sebagian kawan Faiz bahkan masih harus ikut bimbingan belajar di luar sekolah, atas dorongan orang tua mereka. Tapi di sisi lain, ada hikmahnya juga. Kemampuan Faiz dalam matematika dan sains makin baik. Latihan yang intens membuat Faiz jadi trampil untuk kedua mata pelajaran eksakta ini. Nilai bahasa Indonesia-nya juga makin baik, namun aku geleng-geleng kepala lihat materinya, karena hampir semuanya berisi hafalan tanda baca, bentuk kalimat dan lain-lain yang membuat pelajaran bahasa Indonesia terasa mekanis. Tak ada ruang bagi pengembangan kreatifitas, sehingga keunggulan Faiz dalam menuangkan kata-kata yang sarat makna praktis tidak terekspresikan. Tidak heran jika bangsa ini kekurangan stok untuk pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan ketrampilan dan kreatifitas berbahasa, seperti penulis, wartawan, hingga artis. Alhamdulillah sekolahnya masih mengizinkan murid-murid kelas enam untuk mengikuti ekstra kurikuler olah raga. Semula kegiatan ini ditiadakan bagi murid-murid kelas enam, tapi aku termasuk orang tua yang memprotes, karena olah raga merupakan selingan yang bagus ditengah-tengah kesibukan belajar. Dengan alasan serupa aku berupaya mendampingi Faiz bersepeda setiap akhir pekan. Ini juga kesempatan untuk ngobrol ngalor-ngidul dengannya, mendengarkan tentang teman-temannya --yang ia sukai maupun tidak, tentang caranya menghadapi kawan yang meledeknya, tentang sepeda yang ia impi-impikan, dan lain-lain. Faiz memang sedang tergila-gila dengan sepeda --beralih dari mobil, sebelumnya basket, sebelumnya lagi sepakbola. Saat diberi kesempatan mengakses internet, ia selalu mengunjungi situs-situs komunitas pesepeda seperti Bike2Work dan Id-Folding Bike . Ia masuk dalam chatroom-nya dan menjalin persahabatan maya dengan sejumlah pesepeda. Aku izinkan ia chatting di situs-situs ini karena keanggotaannya diseleksi. Dari sini ia menemukan bahwa salah satu tetangga kami ternyata pesepeda off-road. Kini tinggal dua pekan lagi tersisa bagi Faiz untuk mempersiapkan diri menghadapi UAN. Ia sudah menjalani Ujian Tengah Semester dengan soal-soal dari Kantor Wilayah Pendidikan setempat. Hasilnya alhamdulillah bagus. Tapi ujian ini menyingkapkan potensi masalah yang tak terduga sebelumnya. Faiz dan kawan-kawannya memperoleh dua-tiga poin lebih rendah pada ujian yang diperiksa oleh Kanwil Pendidikan ketimbang hasil ujian yang diperiksa oleh guru-gurunya dengan mengacu pada lembar jawaban yang sama. Apa pasal? Rupanya scanner yang digunakan Kanwil Pendidikan tak cukup peka untuk menangkap semua tanda jawaban yang diberikan peserta ujian ;-( Mohon doa agar Allah mudahkan Faiz dan kawan-kawannya menempuh Ujian Akhir Nasional ini. Faiz sebenarnya sudah diterima di SMP Pribadi, Depok, dengan beasiswa penuh, jadi apapun hasil UAS-nya, ia sudah tahu akan melanjutkan kemana. Tapi kami tetap mendorongnya untuk berupaya sungguh-sungguh menghadapi Ujian Nasional ini, sebagai bagian dari upaya mendidiknya agar siap menghadapi berbagai persoalan dalam kehidupan yang ia jalani, sekarang dan masa mendatang --termasuk saat kami berdua tak bisa lagi mendampinginya di dunia fana ini. Mohon doa agar Faiz bisa kembali menguntai kata-kata indahnya --sambil tetap memelihara kemampuannya dalam matematika, sains dan komputer ;-) (Di-Ambil dari Ayah-ku) Kemarin siang yang sangat terik aku berfikir..., kenapa sih ada jalur BUSWAY tapi tidak ada BikeWay/Bike Line? Padahal sebenarnya membuat jalur BUSWAY itu lebih mahal dari pada membuat Bike Line. Untuk membuat jalur BusWay aku kira sekitar 4-8Triliun. Sedangkan untuk membuat Bike Line di Jakarta paling-paling habis 1Triliunkali ya? (Seharusnya tak sampai sih....). Kita akan lebih sehat,mengurangi dampak global warming,mengurangi kemacetan. Gerak yang bagus bagi mereka yang darah tinggi,stroke dan penyakit lainnya. Kalau kita sehat biaya kesehatan bisa untuk membayar utang negara kita hahaha. Universitas Indonesia saja bisa membuat jalur sepeda, kenapa kita tidak?  "Faiz, terimakasih ya, tulisan-tulisan kamu sudah banyak menginspirasi murid-murid di sekolah kami," begitu sapa Pak Aripin. Beliau adalah Kepala Sekolah SDIT Al Hikmah Bandung. "Buku wajib lho Faiz. jadi buku pelajaran dan anak-anak senang sekali," kata beliau lagi. Pertama aku bingung, terus bengong, terus mengangguk angguk, membayangkan teman-teman membaca buku itu sebagai bacaan pelajaran, lalu aku bahagia deh. Merasa berarti. Lagi. Om Arman (armanbelajar.multiply.com) cerita, Pak Aripin itu memang dikenal sebagai guru dan kepala sekolah yang kreatif. Yang sangat peduli pada perkembangan murid-muridnya. Beliau melakukan banyak manuver. Salah satunya ya itu tadi, menjadikan semua bukuku buku pelajaran di sekolah yang beliau kelola. "Banyak yang jadi senang menulis juga. Tapi terutama mereka belajar soal nilai-nilai kehidupan yang sangat indah dari buku-buku Faiz," kata Pak Aripin pada ayah dan Bunda. Seperti biasa, Bundaku sudah terlihat ingin menangis ;-). Sedang aku tengah mengira-ngira, semirip apa Pak Aripin dengan Pak Kobayashi, kepala sekolah Totto Chan ;-) Pagi itu aku merasa begitu ringan. Mungkin karena setitik arti yang kutinggalkan di SDIT Al Hikmah. Ya, semoga memang berarti.... (buat Om Pepeng) dari tanah merendahlah setanahtanah kau hadapkan lurus wajahmu bersama ketulusan dan daya yang kau pahat dalam rongga diri syahdu kau lirihkan suara hingga kau dengar nada udara di antara jari-jari yang tengadah dan jingkat kaki musim, melintasi sabana fana lalu kau pilih ucapan paling bunga diiringi airmata rindu kupu-kupu :”Aku selalu kembali padaMu dalam tiap hembus, dalam tiap denyut, dalam semangat yang kekal tersemat” Sayup kau pun mendengar gempita puja barisan malaikat yang tak pernah usai mengaminkan cinta para kekasih (30 Oktober 2007) NB: Puisi ini belum kuberi judul, silakan bila mau turut menyumbang judul ;-) Aku kewalahan dengan blog-ku sendiri lho.
Nah sekarang aku harus cari solusinya kan?
Jadi kalau ada waktu, aku tulis ini itu untuk blogku. Sayangnya sering tak sempat kuposting. Mulai hari ini aku minta bunda dan sekretaris bunda untuk menolongku. Bukan menuliskan, tapi memposting apa yang tak sempat kuposting di internet. Mereka juga aku mintakan tolong meng-approve atau tidak, siapa saja yang mau jadi kontakku. Juga memposting foto-fotoku.
"Mau bunda atau Tante Sulis yang balas semua reply atau bagaimana?" tanya bunda.
"Kalau reply biar aku saja bunda," jawabku. Lagi pula kalau ada waktu luang semua tetap aku kerjakan sendiri lah...
Jadi begitu deh. Soalnya aku sudah kelas 6. Jadi harus lebih bisa bagi waktu.
Maaf ya tante, om, oma, opa, adik kakak semua yang menjadi kontakku. Terutama yang jarang aku kunjungi dan aku reply satu persatu. Tapi seperti kata bunda, aku meletakkan kalian semua di hatiku ;-D
Terimakasih sekali ya. Salam bahagia dari Faiz.
NB: Sering waktu di depan komputer sekarang aku pakai untuk gendong Nadya...abis gemeeeeeeeeeeesss sekali ;-D Saat diundang untuk mengisi acara talkshow bersama Sutardji Calzoum Bachri, di acara Pekan Presiden Penyair Juli lalu, semalam sebelumnya aku hampir tak bisa tidur. Bagiku SCB ini orang hebat. Salah satu penyair paling besar deh di negeri ini. Aku pun berpikir untuk tidak membuang kesempatan.   Pagi hari sebelum acara, aku sempat membuat sebuah puisi untuknya. Kupersembahkan bagi ultahnya yang ke 66. Ketika tampil dan bincang-bincang, aku sempat bertanya padanya, "Bagaimana melepaskan makna dari kata?" He he he (sok tua nggak sih?). Aku senang, sebab selama tiga perempat jam SCB menjawab itu. Aku bertanya karena penasaran baca kredonya soal melepaskan makna dari kata. Wah pusing (tidak semua bisa kumengerti) tapi asik deh.
Aku sempat juga membaca karyanya yang paling aku suka, "Walau" (Walau penyair besar, tak kan sampai sebatas Allah....).
Nah lalu aku bacakan juga puisi karyaku untuknya. Aku berikan pula buku terbaruku.
"Tanda tangani dong, Iz!" serunya.
Terus berkarya ya, Datuk!
MEMBACAMU
membacamu kutemukan puluhan bulan lonjong tertawa dan lumpur membedaki kakikaki kuda luka
satu saja teriakan matari dan segala kata mengejar merdeka!
(18 Juli 2007) 
Insya Allah buku terbaruku akan terbit di Hari Anak nasional, Juli 2007 nanti. Judulnya: Nadya; Kisah dari Negeri yang Menggigil (Lingkar Pena Publishing House). Kata pengantarnya dari salah satu penyair favoritku: Bapak Sapardi Djoko Damono. O ya, foto untuk coverku adalah dokumentasi Om Hendra (Majalah Zona).
Buku ini kupersembahkan bagi Nadya dan semua yang ingin menulis langit! Sebagian royaltinya untuk teman-teman kecilku. Beli ya ;-) Hari itu aku dan kakak-kakak FLP serta Rumah Cahaya Penjaringan, menemaninya berkeliling "kampung" Penjaringan yang kumuh. Dia dengan ramah menyapa hampir semua orang yang dia jumpai. Juga manggut-manggut sendiri di jalanan. Sesekali kulihat iba membias di wajahnya, diselingi keringat yang mengucur, Mukanya makin merah saja siang itu.
Namanya Deborah Ellis, penulis Canada berusia 47 tahun. Dia banyak menulis buku anak-anak. Setahuku ia aktivis anti perang. Gayanya keren, seperti anak muda saja. Nah dia sudah menulis banyak buku dan mendapat 12 penghargaan internasional. Bukunya terbit di 30 negara. Yang menarik bagiku, dia sangat suka berpetualang. Dia pergi ke Afghanistan tahun 1997, pergi ke Palestina, serta Afrika dan mewawancarai anak-anak di sana. Bukunya menggambarkan perasaan dan pendapatnya tentang dampak perang yang menyedihkan. Dia juga sering lho menyumbangkan hasil penjualan bukunya ke beberapa tempat, termasuk ke UNICEF.
"Apa Anda bersedia ikut kalau kami buat antologi cerpen yang dananya semua kami sumbangkan bagi anak-anak Indonesia korban bencana dan gizi buruk?" tanya bundaku padanya, waktu itu.
Dia mau sekali. Dia malah prihatin lihat Rumah cahaya Penjaringan. Lihat anak-anak di sana yang suka membaca dan ingin bisa menulis. Dia bilang, dia mau bantu cari dana untuk Rumah Cahaya.
Kata tante Dian dan Tante Femmy, buku Deborah Three Wishes: Palestinian and Israeli Children Speak dan Parvana's Journey (tentang Afghanistan) mungkin mau diterjemahkan penerbit Islam di Indonesia. Soalnya isinya cukup obyektif
Hari itu aku punya catatan lagi tentang kepedulian. Deborah Ellis tak banyak bicara, tapi pada matanya aku lihat semangat untuk saling membahu. Demi masa depan anak-anak dunia. Dan kelihatannya dia juga sama dengan aku tuh: tidak suka sama sekali pada Bush!
Mari kita tulis semua dengan hati, Deborah!
NB: Sayang bahasa Inggrisku masih "ancur", jadi nggak asyik deh ngomongnya ;-( Aku bertemu Albert saat kami sama-sama menjadi pendukung drama musikal Senandung Cinta Nanda untuk Bunda. Itu acara memperingati HUT Binavokalia, menjelang akhir tahun lalu. Sebelumnya aku sudah tahu tentang Albert. Aku tahu ia juara 2 Afi Junior dan pemeran utama film Denias (Aku suka sekali film ini!).
Kesan pertama bertemu, Albert itu ramah dan santun sekali pada semua orang. Waktu itu, dia juga yang menegurku duluan. Orangnya humoris dan selalu riang. Meski suka bercanda, dia sungguh-sungguh bila sedang latihan.
Yang membuat aku tambah terkesan, Albert sederhana sekali. Pakaiannya biasa saja. latihan juga pakai baju yang itu-itu saja (sama nih sama aku). Dia juga perhatian pada tiap orang yang memperhatikannya.Sama seperti aku, kemana-mana Albert juga sering naik taxi atau kendaraan umum kalau ke tempat acara. Ibunya bercerita pada bundaku, bagaimana Albert sangat mudah mengulurkan tangan bagi mereka yang membutuhkan.
Waktu aku mengambil foto kami berdua di HP, aku terkejut waktu Albert bilang dia belum pakai hp. Dia pernah beli, tapi menurutnya abangnya lebih butuh. Jadi dia berikan hpnya pada abangnya itu. Albert punya 3 abang dan tiga adik kecil yang cantik-cantik. Dia pas di tengah-tengah. Aku pernah bertemu mereka. Mereka semua sayang sekali pada Albert dan berusaha datang waktu Albert show.
Waktu menjelang pementasan, Albert yang lahir 29 Juni 1993 itu banyak membimbingku.Termasuk melatihku untuk tidak gampang tertawa (he he he, peranku jadi anak korban bencana tapi aku maunya nyengir terus, maklum aku tidak biasa akting). Dia memang multitalenta. Bisa nyanyi, jago akting. Kalau aku, waduh masih jauh, dan mungkin memang bukan bidangku ya.
Waktu kami berpisah usai pementasan yang sukses itu, kami berjanji untuk saling tak melupakan dan saling mendoakan. Aku bilang, "Aku rasa, kamu akan dapat piala citra untuk peranmu di Denias."
Albert tersenyum. Dia bilang, "Jangan lupa kirimkan aku puisi-puisi cinta ya, biar kupinjam dulu," katanya. "Jangan lupa makan sayur dan olahraga. Banyak latihan! Minum vitamin juga perlu!" katanya lagi sebelum berpisah. "Biar kamu vit terus!" Ya, aku ingat ceritanya tentang bagaimana beratnya syuting Denias, di Papua. Albert selalu menjaga kebugaran tubuhnya, karena jadwal shownya juga padat.
Beberapa hari setelah pementasan, Albert memenangkan piala citra sebagai aktor terbaik FFI 2006. "Ini untuk masyarakat Papua," katanya di televisi.
Semoga Tuhan selalu menjagamu, Albert! Terus berkarya dan jangan lupakan aku, ya ;-D
Ini percakapan di mobil antara ayah dengan bundaku.
Ceritanya teman-teman ayah mau buat profil perempuan Indonesia, yang waktu itu ada di gatra edisi khusus (Ikon Perempuan Indonesia). Nah terus di sana kan juga ada bundaku. Ayah cerita, ayah bilang jangan pada teman-teman ayah. Perempuan lain nggak apa tapi bunda jangan karena ayah tidak enak hati, meski teman-teman ayah mendesak. Meski ayah mengakui bunda memang pantas sekali.
Aku jadi ingat beberapa kejadian yang lain. Aku pernah tidak diajak suatu acara, hanya karena penggagas acaranya bundaku. Kata bunda, bunda tidak enak. Padahal sebenarnya aku pantas. Padahal banyak teman-teman bunda mengusulkan aku.
Aku jadi merasa bagaimana ya...bingung juga. Harusnya kan profesional saja berdasarkan potensi. Dan biar panitia lain yang menghubungi. Terus diperlakukan sama dengan yang lain.
"Andaikan bunda bukan istri ayah....," gumam bunda.
"Hah?" aku dan ayah kaget.
"Hah?" Bunda pun kaget sendiri dan buru-buru istighfar.
"Maksud bunda, ya profesional aja gitu lho. Jangan karena bunda istri ayah, trus bunda malah dijegal he he he he...."
"Tapi bunda juga gitu sama aku," kataku pura-pura merajuk. "Jangan karena aku anak ayah bunda, aku juga dijegal...he he he," tambahku bercanda.
Langsung deh mobil ramai oleh derai kami.
Bagaimana pun aku beruntung dan bahagia jadi anak ayah bunda. Ayah bahagia punya istri seperti bunda dan anak seperti aku. Bunda juga begitu. Nadya juga. Dan masing-masing kami punya potensi. Punya profesionalisme yang perlu dihargai...
"Bukan begitu, Nadya?" tanyaku pada Nadya
Mata Nadya semakin bulat. Mulutnya melongo. Dia tahu, ayah bunda kami yang keren itu orang-orang baik yang sangat berhati-hati (takut sekali KKN).
Subhanallah. Alhamdulillah.

Kau bertanya padaku
tentang dua mata peri
Percayalah
binarnya tak seterang
mata bunda
kala menatap
dan menggenggam tanganmu
Pada setiap napasnya
bunda membuat matahari-matahari baru
dalam jiwamu
Kau bertanya padaku
tentang dua kaki gunung itu
Percayalah
kokohnya tak setegar
bahu ayah
kala memanggulmu
tanpa istirah
Pada setiap napasnya
ayah memancangkan tiang-tiang asa
agar langkahmu sampai pada bianglala
(1 Mei 2007)
 | Nadya 4 | Apr 20, '07 4:49 AM for everyone |
NADYA 4
Mas,
buatkan
perahu kecil
untukku
dari puisi-puisimu
yang
menderu
(20 April 2007)

Apakah
setiap malam kita harus menangisi Indonesia?
Kau
menatapku dengan mata basah yang sama
seperti
mata kanak-kanak
yang tak
pernah menemukan cinta
terus
mengais asa
di
jalan-jalan kota
dan desa negeri kita
Apakah
setiap malam kita harus menangisi Indonesia?
Sambil
tersedu-sedu
jemari
kecilmu menggenggam tanganku
kuat sekali
mungkin kau
ingin mengajakku berdoa
dan
memintaku tetap melangkah
dalam
tangis yang melaut
Aku, kau mungkin boleh terus menangis, sayang
tapi kitalah masa depan
kanak-kanak
yang harus
menjalin
airmata negeri
menjadi
cahaya
menjadi cahaya
(1 April 2007)
 | Nadya 2 | Apr 20, '07 4:32 AM for everyone |

Dari jemari
kecilmu
kau
jentikkan lagi cinta
dan puisi
yang tak perlu arti
meluncur
dari bibir mungilmu
“Mas,
datanglah padaNya,”
mungkin itu
yang ingin kau katakan
lewat wajah
jernihmu
yang
menyala di kegelapan
Ah, cinta
memang tak pernah lelap
dalam
matamu yang terjaga
dini hari
membangunkanku
berwudhu
(1 Maret 2007)
Gara-gara tulisan bunda ini
aku pun menulis hal di bawah ini...;-D
10 yang Mengesankan dari Ayahku
- Selalu
bisa menjawab semua pertanyaanku
- Pintar, bersahabat dengan buku dan jago komputer
- Tidak
tega melihat orang susah dan ingin segera menolong
- Suka
sekali makan semua jenis sayuran
- Jarang
sakit
- Tidak
pernah marah-marah apalagi memukul
- Pernah
kecopetan hp terus berantem sama copetnya dan sempat kejar-kejaran.
- Rajin sholat dan puasa sunnah
- Pergaulannya
luas
- Tahu
tempat makan yang enak-enak
10 yang mengesankan dari Bundaku
- Saat
tak bisa menjawab pertanyaanku,
bunda selalu mengaku, terus mencari jawaban di buku-buku dan akhirnya
memberitahuku
- Sangat
perhatian
- Jago
mendongeng, jago menulis cerita
- Sangat
menjaga perasaan orang
- Gagah
dan mandiri tapi gampang menangis kalau bertemu orang susah
- Humoris
- Romantis
(he he he)
- Supel
dalam bergaul dengan siapa saja
- Suka
sekali menyemangati siapa saja
- Kalau
marah sebentar saja dan tidak
pernah dendam
Alhamdulillah. Aku belajar banyak dari ayah bundaku... Semoga Allah selalu mencintai dan melindungi mereka (juga adikku si Nadya dan kita semua) Amiiiin...
 | Nadya | Feb 6, '07 12:09 AM for everyone |
Selalu ada matahari bersamamu meski kau lahir dalam pelukan hujan
Di luar pelangi menari menjulurkan tangga kencana bagimu disaksikan jutaan mata peri
Dimana sesungguhnya alamatmu gadis kecil? Jalan cinta, jalan kebahagiaan sejatikah?
Dan doa pun berlimpah dari semesta bersama anggukan kupu-kupu
Selamat hadir, Nadya Paramitha!
(Abdurahman Faiz, 1 Februari 2007)
Bunda adalah yang terhebat di dunia sebab ia melahirkan kehidupan dan memberi nyawa pada kata cinta
Ayah adalah yang teristimewa di dunia sebab dari keringatnya ia memberi tapak untuk melangkah
Anak adalah kita mungkin bisa jadi yang terindah saat mencitakan suka, lalu setia berjuang dan memahatnya abadi di hati mereka
(Abdurahman Faiz, 15 November 2006)
Ini kado untuk ayah bunda, di hari ulangtahunku yang ke 11. Foto dokumentasi Majalah Ummi lho....
| |